Menu
header photo

Title

Subtitle

Tata Cara Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam

February 6, 2017
Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya: mengotes. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, karena dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan ini. Ada yang mengatakan jika aqiqah merupakan nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada lagi yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang ditemui pada oknum si budak ketika ia keluar mulai rahim permulaan, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk balita yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 sudut untuk balita laki-laki dan 1 termuda untuk bayi perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi sebutan dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan balita perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak tersebut tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berkata: “Aqiqah dijalankan karena kemunculan bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Dari ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi oleh sebab itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber ‘aqiqah untuk Lembut dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi nama dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak bagian 4, hal. 264]

Tanggapan: Hasan dan Husain ialah cucu Rasulullah saw SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Lembut, dia mengatakan: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang2 miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Norma Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama pandai fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan siram darinya buangan (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun meski bersifat wajib, karena tersedia sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban yaitu: “Barangsiapa diantara kalian siap yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, maka silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Bubuk Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan informasi yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu menyerupai layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh pada aqiqah berikut hewan yang picak, renyah, patah rangka, dan nyeri. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam hewan aqiqah itu cacat-cacat yang bukan diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Lalu kami dalam masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumangkan kepalanya secara darah kibas itu. Jadi setelah Yang mahakuasa mendatangkan Islam, kami menggorok kambing, mencukur (menggundul) oknum si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud perkara 3, hal. 107]

Daripada ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang balita, mereka menconteng kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur serabut si balita mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW berkata, “Gantilah kadim itu beserta minyak wangi”.[HR. Putra Hibban dengan tartib Rumpun Balban perkara 12, sesuatu. 124]

Menunaikan aqiqah menurut kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadits Samirah dalam mana Rasul SAW menitahkan, “Seorang anak terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka di dalam hari ke-21 atau bilamana saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) kepada dasar imbauan, maka takut-takut menyembelih dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah sedang. Karena rukun ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan merunyamkan sebagaimana panduan Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan gak menghendaki ketegangan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berlandaskan sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, serta diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan apabila tidak mampu melaksanakannya dalam hari ketujuh, maka siap dilaksanakan saat hari di empat belas kasihan, dan bila tidak dapat, maka pada hari di dua persepuluhan satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Rumpun Buraidah daripada ayahnya daripada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih di dalam hari ketujuh, ke empat belas, dan ke 2 puluh tunggal. ” (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga ahad masih gak mampu dipastikan kapan pula pelaksanaannya di kala sungguh mampu, karena pelaksanaan dalam hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama tidak wajib. Serta boleh pun melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Bayi yang musnah dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, terutama meskipun bayi yang miskram[cak] dengan tuntutan sudah berusia empat kalendar di dalam isi ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada memfilter si bayi. Namun jika seseorang yang belum di sembelihkan fauna aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, dipastikan dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri dipastikan hal tersebut tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran. Jika bukan bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa juga, maka di dalam hari kedua puluh wahid. http://dapoeraqiqah.com/aqiqah-murah-bandung/ Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Namun demikian, kalau ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia dapat melakukan aqiqah sendiri di saat kuat. Satu saat al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Imam Ahmad menyangkal, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi ketika kecil, oleh sebab itu lebih cantik melakukannya seorang diri saat gede. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menilai demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh manusia tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal ialah satu sudut baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Putra Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan & Husain wahid domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Duli Dawud & Ibnu Al Jarud)

Kita harus sadar bahwa Rancak dan Husain adalah anak kembar. Oleh karena itu pada tunggal kelahiran tersebut disembelih dua ekor kambing.

Namun yang lebih yang utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 ekor untuk anak perempuan berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor sedia dan mulai anak perempuan satu kontrol. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang mempunyai: “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor domba yang sama dan mulai anak cewek satu termuda. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang keturunan

1. Disunnatkan untuk memberikan nama serta mencukur rambut (menggundul) pada hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir di hari Minggu, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

dua. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang untuk anak perempuan 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan lawan orang tua si anak, namun boleh juga dilakukan oleh keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Indah Mentah / Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kibas untuk bani dan mono ekor kambing untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah dikasih kepada tetangga dan fakir miskin juga bisa dikasih kepada manusia non-muslim. Makin jika sesuatu itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya & dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah petuah Allah, “Mereka memberi makan orang rendah, anak yatim, dan terpidana, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada saat itu ialah orang-orang keparat. Namun demikian, keluarga pun boleh memakan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa menelaah apakah megak atau bini, sebagaimana riwayat di lembah ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia relasi bertanya terhadap Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor wedus dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Gak menyusahkanmu bagus kambing ini jantan atau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum mendapatkan dalil yang lain yang mengisyaratkan adanya binatang selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Rasul SAW berlandaskan dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 mulai kelahiran budak tersebut. [Lihat kaidah riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Sedangkan dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjemput kerabat serta tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada kaum muslimin, dan mampu mengundang sobat-sobat dan kerabat untuk menyantapnya, atau piawai juga dia mensedekahkan seluruhnya. Syaikh Putri Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya serta memasaknya lalu mengundang orang-orang yang engkau lihat layak diundang atas kalangan nenek, tetangga, sobat-sobat seiman serta sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, dan hal seperti dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi bahwa ada siratan antara makna sebuah seri dengan yang diberi seri. Hal tersebut ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang menyatakan hal ini.

Dari Debu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam pamor berkaitan dengannya sehingga bagai makna-makna ini diambil darinya dan seumpama nama-nama itu diambil dari makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui konsekuensi nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang menurut Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku elakan: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Putri Al-Musayyib berkata: “Orang itu senantiasa bergaya keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang indah untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang bagus yang ranggi diberikan adalah nama nabi penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Atas Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik menurut ajaran Islam, silahkan fraksi:

Memberi Sebutan Bayi alias Anak Secara Islami


Menyikat Rambut

Menyikat rambut adalah anjuran Nabi yang luar biasa baik untuk dilaksanakan begitu anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpenjara dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Laksmi dan Husein lalu sira menyedekahkan argentum seberat rambut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan beserta rata; tidak boleh seharga mencukur beberapa kepala & sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar lagi sedekahnya.

Ciri Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan identitas Allah, akur Allah terimalah (kurban) daripada Muhammad serta keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk anak ini beserta kalimat Tuhan Yang Siap dari seluruh gangguan syaitan dan huru-hara binatang beserta gangguan sorotan mata yang dapat mengangkat akibat jorok bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs punya beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA SERIKAT tatkala Yang mahakuasa SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di dalam aqiqah itu mengandung unsur perlindungan mulai syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir ini, dan itu sesuai secara makna hadits, yang mempunyai: “Setiap bujang itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Oleh karena itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih terlindung dari sindiran syaithan yang sering memegang anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sama Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak saat hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat untuk kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) lawan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur untuk karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah guna sarana menampakkan rasa semarak dalam mengusahakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkukuh ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan sedang banyak lagi hikmah yang terkandung di pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Tanah al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Go Back

Comment


Blog Search

Comments

There are currently no blog comments.